makalah fiqh iqtishadi terlengkap tentang biaya produksi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut teori produksi konvensional,
Produksi pada dasarnya yaitu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa yang
kemudian dimanfaatkan oleh konsumen
Dalam perspektif Islam, produksi
yaitu suatu usaha untuk menghasilkan dan menambah nilai guna dari suatu barang
baik dari sisi fisik materialnya maupun dari sisi moralitasnya, sebagai sarana
untuk mencapai tujuan hidup manusia sebagaimana digariskan dalam agama Islam,
yaitu mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Pemahaman
lebih lanjut produksi dalam Islam memiliki arti sebagai bentuk usaha keras
dalam pengembangan faktor-faktor sumber produksi yang diperbolehkan. Hal ini
sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Maidah ayat 87:
$pk0r'¯»t
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä w (#qãBÌhptéB ÏM»t6Íh9sÛ !$tB ¨@ymr& ª!$# öNä3s9 wur (#ÿrß0tG÷ès? 4 cÎ) ©!$# w =Ïtä tûïÏ0tF÷èßJø9$# ÇÑÐÈ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu,
dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.”
Al-Ghazali salah satu ekonom Islam yang sangat concern
terhadap teori produksi dalam kehidupan masyarakat. Beliau sering menggunakan
kata kasab dan islah yang berarti usaha fisik yang dikerahkan
manusia dan yang kedua dalam upaya manusia untuk mengelola dan mengubah
sumber-sumber daya yang tersedia agar mempunyai manfaat yang lebih tinggi.[1]
Jadi dapat ditarik kesimpulan dari beberapa definisi
produksi dalam Islam diatas, yaitu suatu kegiatan yang menghasilkan barang dan
jasa dengan mengubah faktor-faktor sumber produksi yang dihalalkan dalam Islam
untuk memenuhi kebutuhan manusia baik jasmani maupun rohani untuk mencapai falah.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis perlu merumuskan masalah-masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini, diantaranya:
1. Apa saja prinsip produksi ?
2. Apa faktor-faktor produksi?
3. Apa yang dimaksud dengan biaya produksi?
4. Bagaimana cara memaksimumkan keuntungan?
5. Apa yang dimaksud dengan modal
organisasi?
C. Tujuan
Penulisan Makalah
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui Prinsip Produksi.
2. Untuk mengetahui Faktor-Faktor Produksi.
3. Untuk mengetahui Biaya Produksi.
4. Untuk mengetahui cara mamaksimumkan
keuntungan.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan Modal Organisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP
ISLAM DALAM FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI ISLAMI
A.
Prinsip-Prinsip Produksi
Produksi
adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian
dimanfaatkan oleh konsumen. Secara teknis, produksi adalah proses
mentransformasikan input menjadi output. M.N siddiqi berpendapat, bahwa
produksi merupakan penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai
keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat.[2]
Muhammad
Abdul Mannan mengemukakan, prinsip fundamental yang harus selalu diperhatikan
dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Keunikan konsep
Islam mengenai kesejahteraan ekonomi terletak pada pertimbangan kesejahteraan umum yang lebih
luas yang menekankan persoalan moral, pendidikan, agama, dan persoalan lainnya.
Kesejahteraan yang dimaksudkan Muhammad Abdul Mannan adalah bertambahnya pendapatan
yang diakibatkan oleh peningkatan produksi dari pemanfaatan sumber daya secara
maksimal, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam dalam proses
produksi[3].
Al-qur’an
dan hadis Rasulullah SAW. memberikan arahan mengenai prinsip-prinsip produksi
sebagai berikut:
1.
Tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah allah adalah
memakmurkan bumi dengan ilmu dan amalnya.
2.
Islam selalu mendorong kemajuan di bidang produksi.
3.
Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia.
4.
Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam
menyukai kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat.[4]
Kaidah-kaidah dalam berproduksi antara lain:
1.
Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap tahapan
produksi.
2.
Mencegah kerusakan di mukabumi, termasuk membatasi polusi,
memelihara keserasian,dan ketersediaan sumber daya alam.
3.
Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan
masyarakat serta mencapai kemakmuran.
4.
Produksi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan kemandirian
umat.
5.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik kualitas spiritual
maupun mental dan fisik.
B.
Faktor-Faktor Produksi
Faktor produksi
dapat dibedakan ke dalam empat golongan
yaitu, tanah, tenaga kerja, modal dan keahlian. [5]
1.
Modal
Modal menduduki tempat yang spesifik. Dalam masalah modal, ekonomi
Islam memandang modal harus bebas dari bunga. Yang dimaksud dengan modal adalah
barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses
produksi. Modal menurut pengertian ekonomi
adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan
produk lebih lanjut[6].
Misalnya, orang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam halini jala merupakan
barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan untuk
menghasilkan produk lain (ikan).
Modal dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya,
berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan sifatnya.[7]
a.
Berdasarkan sumbernya, modal dapat
dibagi menjadi dua: modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri,
misalnya setoran dari pemilik perusahaan. Sementara modal asing, misalnya,
modal yang berupa pinjaman bank.
b.
Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal
abstrak. Contoh dari modal konkret yaitu
mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan contoh dari modal abstrak adalah
nama baik, dan hak merk.
c.
Berdasarkan pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan
modal masyarakat. Modal individu contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan.
Sedangkan modal masyarakat seperti rumah sakit umum milik pemerintah,
jalan,jembatan.
d.
Modal dibagi berdasarkan
sifatnya, modal tetap dan modal lancar. Contoh dari modal tetap yaitu mesin dan
bangunan pabrik. Sedangkan contoh dari modal lancar adalah bahan-bahan baku.
2.
Tenaga Kerja
Tenaga kerja
manusia adalah segala kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani yang
dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun
faedah suatu barang.
Tenaga kerja
manusia dapat diklasifikasikan menurut tingkatannya (kualitasnya) yang terbagi
atas:
a.
Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga kerja yang
memperoleh pendidikaaik formal maupun non formal, seperti guru, dokter dan
pengacara.
b.
Tenaga kerja terlatih (trained labour), adalah tenaga kerja yang
memperoleh keahlian, berdasarkan latihan dan pengalaman. Misalnya, montir,
tukang kayu, tukang ukir.
c.
Tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih (unskilled and untrained
labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani daripada
rohani, seperti, tukang sapu, pemulung, buruh tani.[8]
3.
Tanah
Tanah adalah faktor produksi yang penting mencakup semua sumber
daya alam yang digunakan dalam proses produksi. Ekonomi Islam mengakui tanah
sebagai factor ekonomi untuk dimanfaatkan secara maksimal demi mencapai
kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan
memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi
islam. Al-Qur’an dan sunnah dalam hal ini banyak menekankan pada pemerdayaan
tanah secara baik. Dalam pemanfaatan sumber daya alam yang dapat habis, islam
menekan agar generasi hari ini dapat menyeimbangkan pemanfaatannya untuk
generasi yang akan datang.[9]
4.
Kewirausahaan
Faktor
kewirausahaan adalah keahlian atau keterampilan yang digunakan seseorang dalam
mengkoordinir factor-faktor produk. Sumber daya pengusaha yang disebut juga
kewirausahaan. Berperan mengatur dan mengkombinasikan factor-faktor produksi
dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.
Pengusaha berkaitan dengan managemen.
Sebagai pemicu
proses produksi, pengusaha perlu memiliki kemampuan yang dapat diandalkan.
Untuk mengatur dan mengkombinasikan factor-faktor produksi, pengusaha harus
mempunyai kemampan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan
mengendalikan usaha.
C. Biaya Produksi
Biaya
merupakan suatu pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang untuk
suatu tujuan tertentu. Biaya merupakan harga pokok atau bagiannya yang telah
dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan.
Biaya
produksi merupakan semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk
memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk
menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut.[10]
Dalam
arti sempit, dalam biaya terdapat empat unsure penting, yaitu: pengorbanan
sumber ekonomi, diukur dalam satuan uang, telah terjadi atau kemungkinan akan
terjadi, dan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam
arti luas, biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dibedakan menjadi
dua jenis, yaitu biaya tetap dan biaya yang selalu berubah. Keseluruhan biaya
produksi dinamakan biaya total. Biaya
total didapat dari penjumlahan biaya tetap dan biaya berubah.[11]
1. Biaya tetap (fixed cost).
Biaya tetap yaitu biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan dengan tidak memandang apakah perusahaan itu sedang
menghasilkan barang atau tidak. Biaya
tetap ini sangat penting bagi perusahaan karena akan mempengaruhi operasional perusahaan
dalam hal penentuan tingkat pemaksimuman keuntungan.[12]
2. Biaya variable (Variable cost)
Biaya variable yaitu segala macam
biaya yang dikeluarkan yang berhubungan dengan besar kecilnya unit produksi
yang dihasilkan.
Secara teoritis, biaya variable dibagi
menjadi tiga, yaitu:
a. Biaya variable yang bersifat progresif.
b. Biaya variable yang bersifat
proporsional.
c. Biaya variable yang bersifat degresif.
Jadi,
biaya total dapat dihitung menggunakan rumus TC= FC + VC. [13]
D. Pemaksimuman Keuntungan
Dalam
menganalisis suatu usaha, harus memperhatikan yang namanya biaya produksi yang
dikeluarkan dan hasil penjualan. Pemaksimuman keuntungan dapat dicari dengan
dua cara, yaitu: membandingkan hasil penjualan total dengan biaya total dan
menunjukkan hasil penjulan marginal = biaya
marginal.
Keuntungan
merupakan perbedaan antara hasil penjualan total yang diperoleh lebih besar
dari biaya total. Keuntungan akan mencapai maksimum apabila perbedaan diantara
keduanya adalah maksimal. Jadi, keuntungan = hasil penjualan – biaya total.[14]
Imam
al-Ghazali tidak menolak kenyataan bahwa mencari keuntungan adalah motif utama
dalam perdagangan. Namun, dalam hal ini ada sesuatu yang menarik dari imam
al-Ghazali yaitu mengurangi jumlah keuntungan dengan menjual harga lebiih murah
akan meningkatkan volume penjualan yang mana akan berdampak pada meningkatnya
keuntungan.
E. Modal Organisasi
Modal adalah baik barang-barang berupa barang-barang konkret yang masih
ada dalam rumah tangga perusahaan yang ada pada neraca sebelah debit maupun
berupa daya beli atau nilai tukar dari abrang-barang itu yang tercatat
disebelah kredit. Modal dapat
digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta
berdasarkan sifatnya.[15]
Berdasarkan
sumbernya, modal dapat dibagi menjadi
dua: modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri, misalnya setoran dari
pemilik perusahaan. Sementara modal asing, misalnya, modal yang berupa pinjaman
bank.
Berdasarkan
bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Contoh dari modal konkret yaitu mesin,
gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan contoh dari modal abstrak adalah nama
baik, dan hak merk.
Berdasarkan
pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal
individu contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan. Sedangkan modal
masyarakat seperti rumah sakit umum milik pemerintah, jalan,jembatan.
Modal dibagi berdasarkan sifatnya, modal tetap dan
modal lancar. Contoh dari modal tetap yaitu mesin dan bangunan pabrik. Sedangkan
contoh dari modal lancar adalah bahan-bahan baku.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Produksi yaitu suatu usaha untuk
menghasilkan dan menambah nilai guna dari suatu barang baik dari sisi fisik
materialnya maupun dari sisi moralitasnya, sebagai sarana untuk mencapai tujuan
hidup manusia sebagaimana digariskan dalam agama Islam, yaitu mencapai
kesejahteraan dunia dan akhirat.
Prinsip produksi dalam Islam lebih menyukai
kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat. Faktor
produksi dapat dibedakan ke dalam empat
golongan yaitu, tanah, tenaga kerja, modal dan keahlian.
Biaya
produksi merupakan semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk
memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk
menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut.
Keuntungan adalah motif
utama dalam perdagangan. Baik keuntungan
di dunia maupun keuntungan di akhirat. Dalam memperkirakan keuntungan yang akan
diperoleh, maka terlebih dahulu harus mempertimbangkan modal yang dimilikinya
beserta besarnya biaya yang akan dan telah dikeluarkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islami. 2007.
Rozalinda, Ekonomi Islam (Teori Dan Aplikasinya Pada Aktivitas Ekonomi), Jakarta:
Rajawali Pers, 2014.
Edwin Nasution, Mustafa, Dkk. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam,
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.
Aziz, Abdul, Ekonomi Islam (Analisis Mikro Dan Makro), Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2008.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.